Minggu, 14 November 2021

Teruntuk diriku sendiri

 Muhammad Teguh Budianto, seorang pria yang lahir dari keluarga yang sangat sederhana, jauh dari kata kaya.

Anak pertama sekaligus menjadi harapan orang tua.

Bocah kecil yang tidak suka menonton kartun seperti anak usianya pada umumnya.

Beranjak remaja untuk membeli apa yang dia inginkan dia harus nabung dan berusaha dengan keringatnya.


Sekarang, anak kecil itu beberapa hari kedepan bakalan menginjakan umur yang ke dua puluh tiga.

Cukup dewasa, tapi tidak dengan perilakunya.


Sekarang perlahan ia berusaha membahagiakan orang tua hingga adik satu-satunya yang ia cinta.

Teguh itu bocah egois, emosional dan masih banyak kurangnya.


Sekarang mungkin adalah part terberat dalam hidupnya.

Sekarang ia harus melewai hujan badai hingga ia lupa arah tujuan hidup.

Ia sengaja menulis kisah ini agar jika kelak ia sudah melewati fase ini dan akan bertemu dengan hujan yang tak deras ia yakin jika ia mampu melewatinya sebab hujan badai seperti sekarang ia sudah lewati, semoga.


Saat ini ia harus kehilangan orang yang ia cinta, bisa dibilang sebagian jiwanya telah bersamanya.

Teguh yang salah, ia terlalu egois hingga harus kehilangan orang yang ia cinta.


Sekarang ia sadar jika dirinya harus banyak yang diperbaiki.

Dari sikap, perilaku hingga hati.


Aku percaya setiap orang punya keinginan untuk memperbaiki diri agar masalah yang sama tidak terulang berkali-kali.

Mungkin sekarang benar-benar bingung seperti apa perasaan, rasanya kaya pengen nangis terus, ketakutan, pikiran berantakan, rasanya kehilangan semangat buat lakuin hal apapun.


Mungkin sebagian orang menganggap ia lebay atau menertawakannya, biarlah.

Merusak paru-paru, hilang selera makan, hilang arah, tidak menerima kenyataan yang menyakitkan.

Segala usaha sudah ia lakukan agar semuanya kembali sedia kala, tapi nihil.


Teruntuk orang-orang diluaran sana percayalah setiap orang berbeda-beda dalam menanggapi masalah.

Beruntunglah kalian yang punya kesabaran tinggi, sikap bodo amat dan tidak overthingking. Yaa beruntung kalian.


Sekarang hari ini saya berjanji saya telah selesai, untuk berjuang, dia baik, sangat baik. Tapi ada satu hal yang membuat saya berhenti berharap. Karena, sederhananya saya ingin ia mendapatkan sosok yang jauh lebih baik dari saya. Yang bisa membimbingnya dan membahagiakannya.

Dari dia saya banyak belajar.

Mungkin terdengar kise atau aneh tapi saya selalu berharap disana dia dalam keadan jauh lebih baik.


Akhirnya aku berani mengambil langkah untuk melepaskanmu dan mengikhlaskanmu. Segala rasa cinta, sayang, pengorbanan dan perjuangan sudah kusimpan rapi.

Sangat berat bagiku tetapi kita tak bisa memaksakan yang sudah tidak bisa dan mari berjalan masing-masing.


Aku berjanji aku harus memulai kehidupan yang baru, mencari kebahagiaan yang baru dengan tidak mencari orang baru dengan terburu-buru sebab masih banyak yang harus diperbaiki dalam diri ini sebelum bertemu dengan orang lain. Sampai jumpa dan semoga kita selalu bahagiaaaa.




0 comments:

Posting Komentar