Sabtu, 28 Desember 2019

Apa Saja Hikmah dan Makna dari Sai?


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, pada kesempatan kali ini kita akan sedikit akan membahas mengenai sa’i. Perlu Anda garis bawahi bahwasannya pada saat Sa’i, Shafa dan juga Marwah merupakan sebagian dari syiar Allah SWT . Terdapat firman Allah SWT dalam Qur’an Surah Al-Baqarah [2]: 158 “Maka barang siapa yang beribadah haji ke baitullah atau umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui”

Al-quran dalam surah al-Baqarah ayat 158 di atas telah dimulai dengan penegasan dari Allah SWT tentang Shafa dan juga Marwah. Sebelum dari ayat ini, Allah SWT memberikan gambaran mengenai ciri-ciri orang yang beriman yaitu apabila mereka di berikan suatu masalah, maka mereka akan mengucapkan kalimat istirja atau Inna Lillahi wa Inna ilaihi Raaji’un. Orang-orang yang mana mengucapkan kalimat inilah pada saat mereka terkena masalah, mereka merupakan orang – orang yang memperoleh barokah dan juga rahmat dari Allah SWT.


Lalu, adakah hubungan ayat tersebut tentang kesabaran orang-orang yang memperoleh cobaan musibah itu dengan ayat setelahnya, yakni pada surah al-Baqarah ayat 158 di atas?

Shafa dan juga Marwah merupakan dua bukit yang mana tadinya ia berada sekitar 300 meter dari Masjid Masjidil Haram. Namun, pada saat sekarang ini dalam hal perluasan Masjid Masjidil Haram, Shafa dan Marwah telah menjadi bagian dari masjid Masjidil Haram. Shafa dan juga marwah merupakan termasuk kedalam syi’ar Allah. Kata syi’ar seakar dengan kata syu’ur yang memiliki arti rasa.

Syiar merupakan tanda-tanda agama dan juga ibadah yang mana telah di tetapkan oleh Allah SWT. Tanda-tanda inilah yang di namai dengan syi’ar sebab ia seharusnya menghasilkan rasa hormat dan juga agung kepada Allah SWT. Dengan bersa’i yang mana sesuai dengan tuntunan dari Allah SWT, seseorang mengedepankan dan juga memaklumkan tanda-tanda dari agama Allah SWT, sekaligus ia mengedepankan dan juga memaklumkan rasa tunduk serta ketaatan kepada Allah SWT.

Pada saat sebelum perintah dari bersa’i atau ayat ini di turunkan, kaum musyrikin melakukan pula sa’i  yang memiliki unsur kemusyrikan dan juga penyembahan terahadap berhala. Mereka berihram beratas namakan berhala Manat, kemudian melakukan sa’i. Pada puncak bukit Shafa, mereka meletakkan sebuah patung yang mereka namakan dengan Isaf. Sedangkan pada puncak bukit Marwah di letakkan sebuah berhala yang di namai na’ilah.


Kemudian para kaum muslimin sepenuhnya telah menyadari bahwasannya hal itu tidaklah di benarkan dalam agama Islam sehingga mereka sangat meragukan dalam pelaksaan sa’i. Untuk dapat menghilangkan dari keraguan tersebut, maka ayat di atas menegaskan bahwasannya, “Maka barang siapa yang menunaikan ibadah haji ke baitullah ataupun umrah, maka tak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya,”

Di sinilah ditemukan letak hubungan antara surah al-Baqarah ayat 158 ini dengan ayat yang sebelumnya membahas mengenai kesabaran. Kesabaran orang-orang yang mana memiliki ciri-ciri yang telah dibahas dalam ayat 156 hingga 157, bukan berarti mereka tergolong orang sabar yang tak memiliki upaya. Mereka juga berupaya yang dinamakan oleh al-Quran dengan sa’i yang berarti harfiahnya, menurut Muhammad Quraish Shihab dalam Al-Mishbah merupakan usaha.

Sedangkan arti dari syariahnya pada ibadah haji dan juga umrah merupakan berbolak-balik sebanyak tujuh kali antara bukit Shafa dan juga Marwah demi pelaksanakan perintah Allah SWT (dalam umrah maupun haji). Sedangkan dalam penerapan ibadah sa’i dalam kehidupan sehari-hari merupakan usaha yang sungguh-sungguh dalam hal mencari kehidupan dengan memulainya dari shafa (kesucian niat) dan berakhir di bukit marwah (kepuasan bathin). Di samping itu, dalam berbagai sisi kehidupan, usaha (sa’i) tentu sangatlah membutuhkan sebuah kesabaran.


Dalam kehidupan sehari-hari, pada hakikatnya kita semua telah melakukan sa’i. Sa’i disini berarti mencari rezeki untuk keluarga Anda, sa’i dalam belajar menuntut ilmu, sa’i pada saat berusaha untuk bisa membahagiakan orangtua, iya itu semua merupakan bentuk dari usaha yang akan bernilai pahala yang tak terhingga apabila dimulai dengan shafa (kesucian niat) diakhiri dengan marwah (kepuasan bathin).

Tentu kita ketahui bersama bahwasannya pada saat memulai usaha-usaha di atas merupakan memerlukan yang namanya kesabaran contohnya saja seseorang ayah yang sedang berusaha dalam hal mencari pekerjaan dan juga rezeki yang tergolong halal, kesulitan di  dalam pekerjaan, tekanan dari atasan, target pekerjaan yang sangat tinggi, dan juga beberapa kesulitan lainnya. Atau seorang ibu yang harus membesarkan anak-anaknya sendiri tanpa adanya suami, ditambah lagi pekerjaan rumah yang mereka kerjakan . Apabila itu semua diniatkan suci dan juga tulus semata-mata hanya kepada Allah SWT dan untuk kebaikan, maka insyaAllah akan berganjar ridho serta pahala dari Allah SWT.

0 comments:

Posting Komentar