Rabu, 10 Juli 2019

Cerita Tentang Mihrab Rasulullah di Madinah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, pada kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas dan mengulas tentang mihrab masjid suci Nabi Besar Muhammad SAW, yang mana jika dilihat dari sudut bahasa, al–mihrab memiliki arti bagian depan dan juga tempat yang paling utama dari bangunan Mushalah dan juga masjid ataupun tempat shalat imam didalam masjid. Perlu Anda ketahui juga bahwasannya kata mihrab didalam Alquran disebutkan sebanyak empat kali.

Nabi Besar Muhammad SAW pernah shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis sekitar kurun waktu 16 ataupun 17 bulan. Pada saat setelah beliau hijrah ke Kota Madinah, kiblat masjid pun berada pada bagian belakang, dari arah utara yang berhadapan dengan pintu Utsman di dekat pilar kelima, sebelah utara Pilar Aisyah RA. Pada saat kiblat telah berpindah yaitu ke arah Masjidil Haram, maka beliau pun memindahkan kiblat masjid yang semulanya terletak di utara kini berpindah ke bagian selatannya. Rasulullah SAW shalat di dekat Pilar Aisyah selama kurun waktu dua hingga empat bulan, lalu maju ke bagian Pilar Al-Mukhallaqah dan juga shalat di sana selama kurun waktu beberapa hari. Tempat shalat dari Nabi Muhammad ini pada akhimya dibangun menjadi mihrab.


Pada saat Umar bin Khathab melakukan renovasi atau yang dapat disebut dengan perluasan masjid, mihrab ini dipindahkan ke bagian ujung bangunan baru yang berada di arah selatan. Pada saat Utsman melakukan renovasi masjid, mihrab juga dipindahkan lagi, dan juga mihrab inilah yang hingga saat ini ada sampai sekarang. Di era Nabi Muhammad SAW, Khulafaur Rasyidin, dan juga setelahnya, mihrab masjid ini belum berbentuk seperti ruangan yang cekung di tembok. Berbagai macam sumber-sumber dan ahli-ahli sejarah telah menyatakan bahwasannya mihrab yang berbentuk ruangan cekung di bagian tembok baru mulai ada yaitu pada masa pemerintahan Al-Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayah yaitu pada tahun 88-91 H/707-710 M.

Al-Walid telah memerintahkan Gubernur Madinah pada saat itu, Umar bin Abdul Aziz untuk memperbaiki dan merenovasi masjid. Jadi dapat Anda ketahui bahwasannya mihrab pada bagian Masjid Nabawi ini sebelum mengalami renovasi pada masa Al-Walid merupakan tempat yang terkategori biasa, tak ada yang semacam penanda khusus pada area dinding kiblat dan juga tak ada ruangan yang berbentuk cekung di tembok seperti sekarang ini.

Hal ini juga berdasarkan dari perkataan Umar bin Abdul Aziz, “Berkumpullah! Hadirilah pada saat pembangunan mihrab supaya kalian nanti tak berkata, ‘Umar kini telah mengubah mihrab kita!” Kemudian, pada saat setiap kali akan mengambil batu dari susunan bangunan mihrab, ia pasti meletakkan batu yang lainnya untuk menggantikan posisinya.

Dalam sejarah perkembangannya, kaum Muslimin telah menghiasi mihrab-mihrab di masjid dengan cara memberikan hiasan-hiasan berbau islami, seperti halnya kaligrafi yang bertuliskan ayat-ayat Alquran yang mana diletakkan pada bagian depan masjid. Ini sangatlah sesuai dengan makna dari kata al-mihrab yang juga telah kita ulik diatas. Hal ini juga memiliki tujuan untuk dapat memberikan semacam penanda khusus untuk arah kiblat yang wajib Anda tuju pada saat melaksanakan shalat.

Beberapa Mihrab yang terletak di Masjid Nabawi?

Mihrab Nabi Muhammad SAW yang terletak di Raudhah dan di sebelah kiri mimbar. Mihrab Utsman, yakni dinding di arah kiblat Masjid Nabawi ,yang mana pada saat sekarang ini dijadikan untuk tempat shalat imam . Mihrab Utsmani ini yang dulunya merupakan tempat berdirinya Utsman bin Affan pada saat menjadi imam untuk shalat. Mihrab Sulaiman, juga dikenal dengan nama mihrab Al-Hanafi yang mana terletak di sebelah barat dari mimbar. Tempat ini perlu Anda ketahui yaitu dulunya tempat dari Imam Khanafi mengimami para jama’ah. Pada saat sekarang ini hanya terdapat satu shalat yang berjamaah yang dipimpin atau di imami oleh Syeikh bermazhab Hanafi.


Mihrab Fathimah yang terletak di bagian selatan mihrab Tahajud yang di dalam Al-Maqshurah. Di mana tempat ini atau mihrab ini dulunya merupakan tempat yang pada biasanya Rasulullah gunakan untuk ia shalat tahajud. Mihrab Syekh Al-Haram yang terletak di belakang Dakkah Al-Aghwat, dibangun pada saat masjid ini mengalami renovasi atau perluasan pada era  Sultan Abdul Majid.

Itu dia cerita singkatnya semoga dapat bermanfaat untuk Anda semuanya dan jangan lupa untuk pantau terus situs web jalanhalal.com sebab itulah biro perjalanan yang terpercaya dan juga paling aman untuk Anda gunakan. Semoga dengan Anda membaca artikel pada kali ini ilmu Anda akan menjadi lebih luas dan menjadi banyak ilmu. Mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam menulis sebab kesalahan milik saya dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata.

0 comments:

Posting Komentar