Kamis, 14 Februari 2019

Analisis Kesehatan Bank Dalam Tiga Tahun Terakhir


   Dalam kesempatan kali ini, saya akan mencoba mempresentasikan mengenai cara menghitung NPL, LDR, ROA, dan CAR dari suatu bank yang ada di Indonesia. Pada tugas kali ini saya akan mencoba menghitung dan menganalisis Bank BCA. Setelah melakukan penghitungan NPL, LDR, ROA, dan CAR maka akan dianalisis hasil perhitungannya dengan tingkat kesehatan bank. Data yang akan saya gunakan dalam perhitungan NPL, LDR, ROA, dan CAR adalah data yang diambil dari Annual Report bank BCA sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2017.

1.    Non Performing Loan (NPL)
NPL atau Non Performing Loan merupakan salah satu indikator kesehatan kualitas aset bank. Indikator tersebut merupakan rasio keuangan pokok yang dapat memberikan informasi penilaian atas kondisi permodalan, rentabilitas, risiko kredit, risiko pasar dan likuidasi. NPL yang digunakan adalah NPL neto yaitu NPL yang telah disesuaikan. Penilaian kualitas aset merupakan penilaian terhadap kondisi aset bank dan kecukupan manajemen risiko kredit. Ini artinya NPL merupakan indikasi adanya masalah dalam bank yang mana jika tidak segera mendapatkan solusi maka akan berdampak bahaya pada bank.  NPL yang juga dikenal dengan kredit bermasalah ini memang bisa berdampak pada berkurangnya modal bank. Jika hal ini dibiarkan, maka yang pasti akan berdampak pada penyaluran kredit pada periode berikutnya.

Berikut dibawah ini perhitungan NPL pada Bank BCA dari tahun 2015-2017 :

     Rumus Gross NPL è (KreditBermasalah)/(Total Kredit) x 100%
a) Gross NPL 2015 è Rp. 9.078.557 / Rp. 387.642.637 x 100%
                                    = 2,34%
b) Gross NPL 2016 è Rp. 11.894.154 / Rp. 415.916.245 x 100%
                                    = 2,85%
c) Gross NPL 2017 è Rp. 13.667.233 / Rp. 467.508.825 x 100%
                                    = 2,92%
   Berdasarkan perhitungan Gross NPL pada Bank BCA diatas, dapat diketahui bahwa hasil dari Gross NPL dari tahun 2015 hingga tahun 2017 mengalami peningkatan persentase di setiap tahunnya, yang artinya tingkat kesehatan bank BCA pada setiap tahunnya dari tahun 2015 hingga tahun 2017 mengalami penurunan tingkat kesehatan, meskipun penurunan tersebut tidak terlalu rsignifikan, hanya menurun beberapa persen saja. Di tahun 2015 ke tahun 2016, penurunan tingkat kesehatan bank sebesar 0,51% sedangkan pada tahun 2016 ke tahun 2017 mengalami penurunan sebesar 0,07% saja. Hal ini terjadi akibat jumlah kredit bermasalah meningkat setiap tahunnya. Dari hasil perhitungan Gross NPL tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat kesehatan Bank BCA termasuk dalam kategori “SEHAT” karena persentase perhitungan Gross NPL termasuk dalam kriteria lebih dari sama dengan 2%, Kurang dari 5%.

Rumus Net NPL è (Kredit Macet)/(Total Kredit) x 100%
a) Net NPL 2015 è Rp     1.524.585 / Rp. 387.642.637 x 100%
                                    = 0,39%
b) Net NPL 2016 è Rp     4.394.838 / Rp. 415.916.245 x 100%
                                    = 1,05%
c) Net NPL 2017 è Rp       4.272.765 / Rp. 467.508.825 x 100%
                                    = 0,91%

   Berdasarkan perhitungan Net NPL pada Bank BCA diatas, dapat diketahui bahwa persentase Net NPL mengalami kenaikan dan penurunan. Dimana dari tahun 2015 ke tahun 2016 mengalami kenaikan. Sedangkan dari tahun 2016 ke tahun 2017 mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena jumlah kredit macet di tahun 2017 mengalami penurunan dari tahun 2016. Namun semua itu tidak merubah tingkat kesehatan Bank BCA. Bank BCA tetap termasuk kategori bank yang “SANGAT SEHAT” karena termasuk dalam kriteria NPL kurang dari 2% jika dihitung dari persntase Net NPL.

2.    Loan to Deposit Ratio (LDR)

   Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah rasio antara besarnya seluruh volume kredit yang disalurkan oleh bank dan jumlah penerimaan dana dari berbagai sumber. LDR merupakan rasio keuangan perusahaan perbankan yang berhubungan dengan aspek likuiditas. LDR adalah suatu pengukuran yang menunjukkan deposito berjangka, giro, tabungan, dan lain-lain yang digunakan dalam memenuhi permohonan pinjaman (loan requests) nasabahnya. Rasio juga digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas. Rasio yang tinggi menunjukkan bahwa suatu bank meminjamkan seluruh dananya (loan-up) atau realtif tidak likuid (illiquid). Sebaliknya rasio yang rendah menunjukkan bank yang likuid dengan kelebihan kapasitas dana yang siap untuk dipinjamkan (Latumaerissa,1999:23). LDR disebut juga rasio kredit terhadap total dana pihak ketiga yang digunakan untuk mengukur dana pihak ketiga yang disalurkan dalam bentuk kredit.

Berikut dibawah ini perhitungan LDR pada Bank BCA dari tahun 2015-2017 :

     Rumus LDR è (JumlahKredit Yang Diberikan)/(Dana PihakKetiga) x 100%
a) LDR Tahun 2015 è Rp. 387.642.637 / Rp. 473.666.000 x 100%
                                    = 81,8%
b) LDR Tahun 2016 è Rp  415.916.245 / Rp  530.134.000 x 100%
                                    = 78,4%
c) LDR Tahun 2017 è Rp  467.508.825 / Rp  581.115.000 x 100%
                                    = 80,4%

   Berdasarkan hasil perhitungan LDR pada Bank BCA diatas maka dapat diketahui bahwasannya hasil dari perhitungan Risiko Likuiditas dengan menggunakan rasio LDR mengalami penurunan dan kenaikan dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2017. Dari perhitungan diatas, dapat diketahui bahwa kategori LDR pada Bank BCA dapat dikatakan “SEHAT” karena angka LDR berada di kriteria >75% dan  ≤ 85%.

3.    Return on Assets (ROA)

   Return On Asset (ROA) merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. Return On Asset (ROA) merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelolah investasinya. Di samping itu hasil pengembalian investasi menunjukkan produktivitas dari seluruh dana perusahaan, baik modal pinjaman maupun modal sendiri. Semakin rendah (kecil) rasio ini semakin kurang baik, demikian pula sebaliknya. Artinya rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan.

Berikut dibawah ini perhitungan ROA pada Bank BCA dari tahun 2015-2017 :

     Rumus ROA è = (laba sebelum pajak) / (rata-rata total aset) x 100%
a) ROA Tahun 2015 è Rp. 22.657.114 / Rp. 594.373.000 x 100%
                                    = 3,81%
b) ROA Tahun 2016 è Rp. 25.839.200 / Rp. 676.739.000 x 100%
                                    = 3,82%
c) ROA Tahun 2017 è Rp. 29.158.743 / Rp. 750.320.000 x 100%
                                    = 3,88%
   Berdasarkan perhitungan ROA pada Bank BCA diatas, dapat diketahui bahwa hasil dari perhitungan Penetapan Peringkat Rentabilitas dengan menggunakan rasio ROA mengalami kenaikan setiap tahunnya, dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2017, yang artinya tingkat kesehatan Bank BCA berdasarkan rasio ROA mengalami peningkatan kesehatan bank. Dari perhitungan diatas juga dapat diketahui bahwa kategori ROA pada Bank BCA dapat dikatakan “SANGAT SEHAT” karena angka ROA berada di kriteria > 1,5%.

4.    Capital Adequacy Ratio (CAR)

   Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio kecukupan modal yang berfungsi menampung risiko kerugian yang kemungkinan dihadapi oleh bank. Semakin tinggi CAR maka semakin baik kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko dari setiap kredit/aktiva produktif yang berisiko. Jika nilai CAR tinggi maka bank tersebut mampu membiayai kegiatan operasional dan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi profitabilitas.

Rumus CAR è (modal bank) / (aktiva tertimbang menurut risiko) x 100%

a) CAR Tahun 2015 è Rp 87.887.273 / Rp  471.241.747 x 100%
                                    =18,65%
b) CAR Tahun 2016
è Rp  110.190.013 / Rp  503.236.865 x 100%
=  21,89%

c) CAR Tahun 2017 è Rp  127.964.059 / Rp  554.823.436 x 100%
= 23,06%
   Berdasarkan perhitungan CAR pada Bank BCA diatas, dapat diketahui bahwa hasil dari perhitungan rasio kecukupan modal dengan menggunakan rasio CAR mengalami kenaikan setiap tahunnya, dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2017. Dari perhitungan CAR pada Bank BCA diatas juga dapat disimpulkan bahwa tingkat kesehatan Bank BCA berdasarkan rasio CAR termasuk dalam kategori “SANGAT SEHAT” karena persentase CAR berada di kriteria > 12%.



0 comments:

Posting Komentar

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html